1. Pengertian,
klasifikasi dan Morfologi Jamur Tiram
Jamur
Tiram merupakan salah satu jamur konsumsi yang paling populer dan disukai oleh
masyarakat, terutama di kalangan para vegetarian yang menjadikan jamur sebagai
pengganti sumber protein, seperti daging dan telur.
Pada
awalnya jamur tiram ini hanya tumbuh liar pada batang pohon lapuk di hutan.
Namun seiring perkembangan Zaman, jamur tiram semakin dikenal dan kemudian
mulai dibudidayakan oleh masyarakat secara luas. Budidaya dan pengolahan jamur
ini tergolong mudah dibandingkan jamur lainnya.
Jamur
tiram merupakan jamur konsumsi yang termasuk dalam kelompok Basidiomycota.
Klasifikasi dari jamur jiram adalah sebagai berikut :
Kingdom :
Fungi
Filum :
Basidiomycota
Kelas :
Homobasidiomycetes
Subkelas :
Teleostei
Ordo :
Agaricales
Famili :
Tricholomatacea
Genus :
Pleurotus
Ciri
khas jamur tiram adalah memiliki tudung berwarna putih, merah, hingga
kecoklatan, yang berbentuk setengah lingkaran mirip seperti cangkang tiram
dengan bagian tengah yang agak cekung. Tudung Jamur Tiram ini agak licin dan
berdiameter antara 5 – 20 cm. Badan buah jamur
tiram memiliki tangkai yang tumbuh menyamping.
Selain
memiliki tudung dan badan, jamur tiram juga memiliki spora dan miselium. Spora
jamur tiram berbentuk seperti batang dan berfungsi sebagai alat reproduksi.
Sedangkan miselium adalah kumpulan hifa berwarna putih yang tumbuh dengan cepat
di sekitar media tanam (hifa itu sendiri adalah struktur jamur berbentuk
seperti tabung yang terbentuk dari pertumbuhan spora atau konidia). Fungsi
Miselium adalah sebagai penyerap makanan dari organisme di sekitar media tanam
atau sisa-sisa organisme.
Jamur
tiram merupakan jamur kayu yang dapat ditemukan dengan mudah sepanjang tahun di
hutan atau pegunungan yang sejuk. Sebagai jamur kayu, jamur tiram biasanya
bertumpuk dan menempel pada permukaan batang-batang pohon yang lapuk. Oleh
sebab itu, pada pembudidayaan jamur tiram media yang paling tepat untuk
digunakan adalah serbuk gergaji atau limbah penggergajian, karena memiliki
kesamaan dengan habitat alaminya.
2. Siklus
Hidup Jamur Tiram
Proses
perkembangbiakkan yang dialami oleh Jamur Tiram dalam siklus hidupnya ada 2
tipe, yaitu aseksual dan seksual. Perkembangbiakkan secara aseksual, terjadi
melalui spora yang terbentuk secara endogen pada kantung spora atau sporangium.
Tahapan proses perkembangbiakkan jamur tiram secara aseksual adalah sebagai
berikut :
1) Pelepasan
dan penyebaran spora (basidiospora), pada tahap ini spora jamur yang berukuran
sangat kecil, setelah matang akan terbawa angin dan jatuh ke tanah di sekitar
tubuh jamur.
2) Pembentukan
miselium, pada tahap ini hifa akan tumbuh dan bertambah panjang membentuk
helaian menyerupai benang bertautan. Tautan antar hifa yang menyerupai anyaman
itulah yang disebut sebagai miselium, yang pada umumnya berwarna putih.
3) Pembentukan
tubuh buah, setelah miselium menyebar dan menutupi seluruh permukaan media
tanam, maka tunas-tunas jamur akan muncul menyerupai kancing (pin head).
Nantinya tunas-tunas inilah yang akan tumbuh membentuk tubuh buah.
4) Pembentukan
spora, ditahap terakhir ini pada bagian bawah tudung jamur, akan terbentuk
garis-garis pangkal yang kemudian menyebar ke ujung tudung dan disebut basidia.
Di basidia inilah, jutaan spora dihasilkan.
Sedangkan
perkembangbiakkan secara seksual, terjadi melalui penyatuan dua jenis hifa yang
bertindak sebagai gamet jantan dan gamet betina. Kedua hifa ini membentuk zigot
yang kemudian tumbuh menjadi prodia dewasa. Sporaseksual pada jamur tiram
disebut basidiospora, dan letaknya di dalam kantung basidium. Tahapannya adalah
sebagai berikut :
1) Basidiospora
akan berkecambah dengan membentuk suatu masa miselium monokariotik. Miselium
tersebut akan terus bertumbuh hingga hifa pada miselium bergabung dengan hifa
yang sesuai, sehingga terjadi plasmogami membentuk hifa dikariotik. Kemudian,
apabila kondisi lingkungan mendukung, yaitu suhu antara 10-20o C,
kelembapan 85-95 %, cahayamencukupi, dan CO2 < 1000 pm, maka
tubuh buah akan terbentuk.
2) Pembentukan
tubuh buah biasanya diiringi terjadinya kariogami (peleburan sel kelamin) dan
meiosis (pembelahan sel kelamin dari diploid menjadi haploid) pada basidium.
Bagian sel haploid hasil meiosis, kemudian bermigrasi menuju basidiospora. Dari
spora yang terlepas nantinya akan berkembang menjadi hifa monokarion.
3) Hifa
monokarion akan berkumpul membentuk jaringan sambung-menyambung berwarna putih
yang disebut miselium awal, kemudian akan tumbuh menjadi miselium dewasa (hifa
dikarion). Dalam hal ini, hifa-hifa akan mengalami tahapan plasmogami,
kariogami, dan meiosis hingga membentuk bakal jamur.
3. Syarat
Tumbuh Jamur Tiram
Pertumbuhan
jamur tiram dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1) Media
Tanam
Media
Tanam yang baik bagi pertumbuhan jamur tiram adalah serbuk kayu. Serbuk kayu
yang baik berasal dari kayu yang keras, karena mengandung banyak selulosa.
Selain serbuk kayu, jerami juga dapat digunakan sebagai media tanam. Jerami
yang baik berasal dari jenis jerami yang keras, karena mengandung banyak
selulosa.
2) Kadar
Air
Kadar
air yang dibutuhkan jamur tiram untuk tumbuh adalah antara 60-65 % air bersih,
agar miselium pada jamur tiram dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media
tanam dengan baik.
3) Cahaya
Jamur
tiram tidak memerlukan banyak cahaya matahari, jadi sebaiknya diletakkan di
dalam ruangan atau tempat yang gelap, karena miselium pada jamur akan tumbuh
lebih cepat di tempat yang gelap daripada di tempat yang terang. Namun pada
masa pertumbuhan tubuh buah, jamur tiram memerlukan adanya rangsangan sinar.
Oleh karena itulah itu, dalam pertumbuhannya jamur juga membutuhkan penyinaran
dengan intensitas cahaya antara 60-70%.
4) Suhu
Udara
Suhu
udara yang optimal bagi pertumbuhan jamur tiram dibagi menjadi dua fase, yaitu
fase inkubasi dan fase pembentukan tubuh buah. Pada fase inkubasi suhu udara
yang diperlukan adalah antara 22-28o C dengan kelembapan 60-70 %.
Sedangkan pada fase pembentukan tubuh buah, suhu udara yang diperlukan adalah
antara 16-22o C.
5) Tingkat
Keasaman (pH)
Dalam
pertumbuhan jamur tiram sangat penting untuk mengetahui tingkat keasamaan (pH)
medianya, apabila pH media terlalu rendah atau terlalu tinggi, maka pertumbuhan
jamur akan terhambat. Oleh karena itu, pH media perlu diatur antara pH 6-7
dengan menggunakan kapur(kalsium karbonat). Jika tidak, maka kemungkinan besar
akan tumbuh jamur lain yang akan mengganggu pertumbuhan jamur tiram itu
sendiri. Daerah yang biasanya memiliki kondisi pH 6-7 adalah daerah dataran
tinggi yang berada sekitar 700-800 m di atas permukaan laut.
4. Jenis-jenis
Jamur Tiram
Berdasarkan
warna badan buahnya, terdapat beberapa jenis jamur tiram diantaranya adalah
sebagai berikut :
1) Jamur
Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Jamur
tiram putih adalah jamur tiram yang paling banyak dibudidayakan oleh petani
jamur dan yang paling populer di pasaran. Di jepang jamur ini dikenal dengan
nama Shimeji. Tudungnya berwarna putih dan berdiameter antara 3-8 cm, dengan
permukaan yang agak licin dan berminyak. Alasan kenapa jamur tiram putih paling
banyak dikonsumi adalah karena jamur ini dapat dengan mudah menyerap zat
terutama bumbu, yang mana membuatnya menjadi sangat lezat setelah dimasak.
2) Jamur
Tiram Merah (Pleurotus Flabellatus)
Di
jepang jamur ini juga disebut sebagai Sakura Shimeji. Karena warnanya yang
kemerahan atau merah muda itu sangat mirip dengan warna bunga sakura. Tudung
jamur ini agak tebal dan memiliki diameter antar 5-10 cm. Walaupun jamur ini
memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi dibanding jamur tiram putih.
Pembudidayaan jamur ini masih belum banyak dilakukan oleh petani jamur,
sehingga sangat sulit untuk mencarinya di pasaran.
Ketika
dimasak, warnanya akan memudar karena panas. Sehingga jamur ini sering dipakai
hanya sebagai penghias layaknya selada. Selain sebagai penghias, jamur ini juga
digunakan sebagai obat yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit yang
berhubungan dengan darah.
3) Jamur
Tiram Kuning (Pleurotus Citrinipleatus)
Sesuai
namanya, tudung jamur ini berwarna kuning cerah dengan diameter 2,5-5 cm. Jamur
ini juga sering disebut sebagai Golden Oyster, karena penampilannya yang indah
dan cantik. Penampilannya yang indah dan cantik, inilah yang menyebabkan jamur
tiram ini jarang dikonsumsi dan lebih dijadikan sebagai tanaman hias. Ekstrak
jamur ini bersifat anthiperlipidemia dan antioksidan yang mengandung zat yang
bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya adalah lektin yang sangat berkhasiat
mencegah tumbuhnya tumor.
Hal
itu telah dibuktikkan dengan adanya uji coba memasukan lektin ke tikus yang
mengidap penyakit sarkoa, yang dilakukan di Cina. Dari uji coba itu terbukti
bahwa lektin mampu menghambat perkembangan tumor sampai 80%. Selain lektin,
terdapat juga zat glikoprotein yang bekhasiat ampuh mengatasi sel kanker
leukemia.
4) Jamur
Tiram Biru (Pleurotus Popilinus)
Warna
tudung jamur ini biru keunguan dan berdiameter antara 4-6 cm. badan buahnya
tebal dan kaku. Jamur tiram biru mampu bertahan di lingkungan yang dingin
hingga mencapai suhu 7o C.
5) Jamur
Tiram Abu-abu (Pleurotus Sayor Caju)
Di
jepang jamur tiram abu-abu ini disebut sebagai Shimeji Grey. Jamur ini memiliki
tubuh buah berwarna abu-abu dan tudung berdiameter 4-12 cm. Penggolongannya
sama dengan jamur tiram putih, bedanya jamur ini memiliki rumpun yang lebih
sedikit dibandingkan jamur tiram putih.
Ekstrak rasanya agak sedikit manis, tapi sayangnya sampai saat ini masih
jarang dibudidayakan, sehingga sangat sulit menemukannya di pasaran.
6) Jamur
Tiram Cokelat (Pleurotus Cytidioasus)
Tudung
jamur ini berwarna kecoklatan dan berdiameter 4-10 cm. Kulit tudungnya tebal
sehingga bisa bertahan lebi lama saat disimpan. Jamur jenis ini memiliki
citarasa yang lebih gurih daripada jenis jamur tiram lainnya.
7) Jamur
Tiram Raja (Pleurotus Umbellatus)
Jamur
Tiram Raja ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh jenis jamur tiram
lainnya, diantaranya kekenyalan dalam teksturnya dan memiliki daya tahan yang
lebih lama untuk disimpan. Sehingga sejak mulai dibudidayakan pada tahun 1993
di Taiwan, Jepan, dan China, jamur ini menjadi primadona yang mampu menembus
pasar ekspor. Di China jamur ini telah tersedia dalam bentuk jamur kering yang
dijual dalam kaleng.
5. Kandungan
gizi dan Manfaat Jamur Tiram
Jamur
Tiram merupakan salah satu bahan makanan bernutrisi tinggi dan memiliki
berbagai kandungan zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh. Salah satunya adalah
zat protein, yang tinggi kandungannya hampir sama dengan kandungan zat protein
di dalam biji-bijian. Berikut beberapa kandungan zat gizi yang ada di dalam
jamur tiram :
·
Kalori (energy) = 367 kal
·
Protein = 10,5-30,4 %
·
Karbohidrat = 56,6 %
·
Lemak = 1,7-2,2 %
·
Tianin = 0,2 mg
·
Riboflavin = 4,7-4,9 mg
·
Niasin = 77,2 mg
·
Co (Kalsium) = 314 mg
·
K (Kalium) = 3,793 mg
·
P (Fosfor) = 717 mg
·
Na (Natrium) = 873 mg
·
Fe (Zat Besi) = 3,4-18,2 mg
·
Serat = 7,5-87 %
Di
dalam setiap jenis jamur pasti memiliki asam amino yang berbeda-beda. Berikut
perbandingan antara asam amino jamur tiram dengan jenis jamur lainnya :
1) Jamur
Tiram
·
Leucine = 5,6
·
Isoleucine = 3,2
·
Valine = 4,1
·
Lysine = 4,9
·
Tryptophan = 1,6
·
Threonine = 3,4
·
Methione = 0
·
Phenylalanin = 2,4
·
Histidi = 0
2) Jamur
Kuping
·
Leucine = 3,8
·
Isoleucine = 2,9
·
Valine = 4,3
·
Lysine = 4,1
·
Tryptophan = 1,8
·
Threonine = 4,2
·
Methione = 1,2
·
Phenylalanin = 3,8
·
Histidi = 1,8
3) Jamur
Merang
·
Leucine = 4,5
·
Isoleucine = 3,4
·
Valine = 5,4
·
Lysine = 7,1
·
Tryptophan = 1,5
·
Threonine = 3,5
·
Methione = 1,1
·
Phenylalanin = 2,6
·
Histidi =1,5
4) Jamur
Shiitake
·
Leucine = 7,9
·
Isoleucine = 4,9
·
Valine = 3,7
·
Lysine = 3,9
·
Tryptophan = 0
·
Threonine = 5,9
·
Methione = 1,9
·
Phenylalanin = 4,9
·
Histidi = 0
5) Jamur
Campignon
·
Leucine = 4,9
·
Isoleucine = 2,2
·
Valine = 3,8
·
Lysine = 5,1
·
Tryptophan = 1,2
·
Threonine = 4,7
·
Methione = 8
·
Phenylalanin = 0
·
Histidi = 1,2
Jamur
Tiram memiliki banyak sekali manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh. Berikut
beberapa manfaat yang dimiliki oleh jamur tiram :
1)
Membantu pembentukan sel darah merah.
2)
Membantu menangkal radikal bebas.
Senyawa riboflamin, niacin, dan selenium dalam jamur tiram dapat menghasilkan
antioksidan untuk menangkal radikal bebas yang dapat menyebabkan rusaknya
sel-sel pada tubuh.
3)
Anti Bakteri. Senyawa benzaldehida dalam
jamur tiram membantu mengurangi tingkat bakteri yang menyebabkan stress.
4)
Sumber protein altenatif. Jamur tiram
mengandung asam amino esensial yang sangat lengkap. Protein dalam jamur tiram
kering mencapai 10-30 % dan lebih tinggi daripada beras yang hanya 7,3 %,
gandum 13,2 %, atau bahkan daging 25,2 %.
5)
Meningkatan sistem kekebalan tubuh.
Kandungan vitamin pada jamur tiram dapat membantu meningkatkan sistem imunitas
tubuh. Selain itu, magnesium di dalamnya juga sangat baik bagi tubuh.
6)
Menurunkan kolesterol. Kandungan gizi
jamur tiram setara dengan kandungan gizi dalam daging. Hanya saja perbedaannya
terletak pada kandungan kolesterol, kandungan kolesterol dalam jamur adalah 0%,
sehingga asupan nutrisi dalam setiap konsumsi jamur tiram, tidak disertai
dengan kolesterol jahat. Kandungan serat yang cukup tinggi dalam jamur tiram
juga dapat menurunkan kepekatan lemak dalam darah, serta mencegah penyerapan
makanan berlebih. Sehingga konsumsi jamur tiram secara rutin dapat membantu
menurunkan kolesterol jahat dalam tubuh.
7)
Menurukan berat badan. Jamur tiram yang
kaya akan serat dan kandungan air yang tinggi, dapat membantu menurunkan berat
badan.
8)
Menurunkan tekanan darah. Zat ergosterol
pada jamur tiram akan berubah menjadi vitamin D saat terkena ultraviolet.
Vitamin D berperan mengatur enzim kekebalan tubuh, membantu menurunkan tekanan
darah, dan menjaga kesehatan jantung.
9)
Menjaga kesehatan hati. Sifat anti
bakteri pada jamur dapat menjadi penawar racun bagi hati.
10)
Penghancur virus dan tumor. Zat besi
pada jamur tiram berperan penting dalam membantu pertumbuhan limfosit. Senyawa
ini berfungsi untuk menghancurkan sel-sel tumor atau virus penyakit
11)
Asupan nutrisi bagi ibu hamil. Kandungan gizi dalam jamur tiram dapat
membantu memenuhi nutrisi bagi ibu hamil.
12)
Mencegah kanker payudara. Jamur tiram
mengandung beta-glucan dan asam linoleat. Beta-glucan berperan sebagai
penghambat pertumbuhan sel kanker
prostat pada pria. Sedangkan asam linoleat berperan menekan timbulnya efek
estrogen yang menyebabkan kanker payudara pada wanita setelah menopause.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar